Taguan Hardjo dan Petilasan Spanyol di Nusantara

Kemunculan komik di Indonesia pertama kali ditandai adanya serial Flash Gordon pada majalah D’Orient yang terbit dalam bahasa Belanda tahun 1920-an. Komikusnya Alex Raymond. Meski awalnya merupakan sisipan di majalah tersebut, atas inisiatif penerbit Noordhoff-Kolff, serial Flash Gordon dibundel menjadi empat buku tebal. Munculnya buku komik ini memacu semangat para komikus (dulu disebut toekang gambar) di Indonesia berkarya. Sepuluh tahun kemudian, Kho Wan Gie, menciptakan serial “Put On” di majalah Tionghoa berbahasa Melayu, Sin Po. Berdekatan dengan keberadaan “Put On”, seorang seniman lukis asal Sumatera Timur Nasroen AS, membuat komik strip “Mencari Puteri Hidjau”. Dimuat di majalah Ratoe Timoer.

Majalah Star Weekly juga berjasa mengembangkan komik. Lewat serial “Sie Djin Koei” (Tjeng Tang dan Tjeng See), Siauw Tik Kwie dikenal ke seluruh dunia. Star Weekly juga memuat secara bersambung komik “Si Apiao” karya Goei Kwat Siong. Pengaruh “hero” dari Barat menginspirasi sebagian dari para komikus. Tokoh “Tarzan” Edgar Rice Burrough dijadikan ukuran. Dari sekian banyak tokoh Tarzan ala Indonesia, yang bisa dibilang sukses dipasaran adalah “Djakawana” S Ardi Soma dan “Wiro Anak Rimba Nusantara” yang gambarnya dibuat oleh Kwik Ing Hoo, sedang naskahnya ditulis Lie Djoen Lim. Mengapa hanya kedua komik itu yang bisa sukses? Tidak lain karena ceritanya mampu mengungkapkan keanehan, keganjilan hidup yang jauh dari pandangan mata manusia.

Tahun 1954, muncul komik “Sri Asih dan Siti Gahara” karya R A Kosasih. Uniknya, hero perempuan tersebut menggunakan kostum tradisional Indonesia. Mereka mampu terbang setinggi-tingginya mengintai musuh dari angkasa. Kita pun dipaksa berpikir, kenapa menjadi tren mencipta keanehan yang disertai klise-klise? Mungkin saja mereka menampilkan heronya untuk melindungi manusia yang tertindas. Beberapa waktu kemudian, nama Taguan Hardjo muncul ke permukaan. Dialah salah seorang komikus yang mampu menggambar beragam peristiwa dalam gulungan-gulungan waktu.

Kolase Kepribadian
Pada 1930-an di Suriname, sering muncul tulisan dalam mingguan De Banier van Waarheid en Recht (Bendera Kebenaran dan Keadilan) yang isinya membela nasib para buruh kontrak asal Jawa. Tulisan itu hadir ke permukaan dengan riak-riak berarti dan sempat membuat marah orang- orang Belanda. Saat itu, sistem kolonial Belanda di Suriname sudah memasuki tahap yang bisa dikatakan permanen. Bagi orang Jawa sendiri, termasuk segelintir bangsa-bangsa lain yang berdiam di Suriname, tulisan itu menimbulkan kesadaran bahwa bangsa Belanda secara absolut telah merampas hak preogatif mereka sebagai manusia. Sejak itu, Bok Sark, si penulis artikel mulai mendapat perhatian khusus dari segala penjuru.

Puluhan tahun telah berlalu tanpa seorang pun yang mampu mengungkap siapa dia sebenarnya. Bok Sark adalah nama samaran, bukan nama asli si penulis. Rupanya setelah melalui beberapa diskusi singkat yang disertai ketegangan di Weekkrant Suriname (Koran Minggu Suriname) barulah jati diri Bok Sark yang sebenarnya diketahui. Dia adalah Salikin Hardjo, seorang ketua partai PBIS (Pergerakan Bangsa Indonesia Suriname). Sebelum menjadi ketua partai, pengalaman hidupnya tercatat sangat mengesankan. Ia pernah menjadi pembantu penyusun huruf di sebuah percetakan tempat koran De Banier van Waarheid dicetak. Lepas dari situ, ia pernah menjadi kerani kantor pada maskapai bauxit di daerah Mongoe. Sebagai orang Jawa tentu saja ia tak dapat melepaskan cara berpikir Timur yang penuh mistik dan idealistik. Uniknya, ia punya energi mengadopsi pemikiran Barat sebagai bahan gagasan hingga mampu membuat interpretasi atas pemikiran-pemikiran politiknya.

Pada 6 November 1935 di Suriname, lahirlah Taguan Hardjo. Sebagai ayah, Salikin mendidik anaknya dengan semangat patriotisme yang menggelora. Mereka tinggal di Kroome Elleboog Straat, satu wilayah yang dipenuhi oleh campuran bangsa Portugis, Hindustan, Tiongkok, Creol, Afrika, Spanyol dan kaum Gipsi. Akibat percampuran seperti itu, Taguan mampu melintasi semangat zaman. Kemudian hari, ia begitu fasih mengeluarkan aura arkais dari kode sejarah satu bangsa. Lihat misalnya komik “Peristiwa Kapal Bounty”, “Morina” dan “Dolores”. Begitu cermatnya ia sebagai komikus, pengupas, pembuka yang sampai ke tahapan relung paling dalam peradaban suatu bangsa.

Sebagai pemuda yang penuh vitalitas, Taguan Hardjo pernah bermain film. Judul filmnya tersebut adalah Tondo de Zoon der Wildernis’ (Tondo Tarzan Hutan). Selanjutnya, karena mempunyai naluri dan keingintahuan yang besar, ia bekerja sebagai pegawai di koran De West (Barat) di Suriname. Selama bekerja di koran tersebut, ia mulai melukis komik, tapi hasilnya belum begitu baik karena goresannya penuh dengan kebimbangan di sana-sini.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: